JAKARTA — RADAR99NEWS.COM — Gunung Anak Krakatau di kawasan Selat Sunda, Provinsi Lampung, merupakan salah satu gunung api yang terbentuk melalui proses vulkanik dalam jangka panjang. Keberadaannya tidak terlepas dari sejarah letusan dahsyat Krakatau pada 1883 yang mengubah bentang alam kawasan tersebut.
Berdasarkan pembaruan informasi aktivitas gunung api per 7 September 2026, Gunung Anak Krakatau masih berstatus Level III (SIAGA). Aktivitas vulkaniknya terus dipantau oleh Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG).
Sejarah panjang pembentukan Gunung Anak Krakatau terbentuk dari sisa aktivitas vulkanik setelah letusan dahsyat Gunung Krakatau 26-27 Agustus pada 1883 yang menghancurkan sebagian besar tubuh gunung dan membentuk kaldera di Selat Sunda.
Setelah itu, magma terus naik dari dasar laut membawa lava dan material vulkanik yang menumpuk secara bertahap. Pada 1927, aktivitas vulkanik tersebut akhirnya membentuk daratan baru yang kemudian dikenal sebagai Gunung Anak Krakatau. Hingga kini, tubuh gunung tersebut terus berubah seiring aktivitas erupsi dan proses alam.
Dalam pemantauan terbaru, aktivitas Gunung Anak Krakatau masih berada pada Level III (SIAGA). Kondisi tersebut menunjukkan bahwa aktivitas vulkanik masih memerlukan kewaspadaan tinggi dan pemantauan secara berkelanjutan.
Pada periode 4–6 September 2026, tercatat erupsi menerus yang berlangsung sekitar 25 jam, mulai 4 September pukul 23.07 WIB hingga 6 September pukul 00.04 WIB.
Setelah periode tersebut, aktivitas erupsi masih terpantau. Berdasarkan pemantauan 6–7 September 2026, tercatat antara lain 3 kali erupsi, 9 kali hembusan, 93 gempa frekuensi rendah, 98 gempa hibrida/fase banyak, 4 gempa menerus, serta 1 gempa vulkanik dangkal. Data tersebut menjadi bagian dari pemantauan aktivitas Gunung Anak Krakatau yang dilakukan secara berkelanjutan oleh Badan Geologi/PVMBG.
PVMBG mengimbau masyarakat, nelayan, dan wisatawan untuk tidak melakukan aktivitas dalam radius 3 kilometer dari pusat kawah aktif Gunung Anak Krakatau.
Aktivitas Gunung Anak Krakatau dapat menimbulkan sejumlah potensi bahaya vulkanik. Di antaranya lontaran material pijar di sekitar kawah, hujan abu vulkanik yang penyebarannya dapat dipengaruhi arah angin, serta potensi lahar apabila terjadi hujan dengan intensitas tinggi di kawasan gunung api.
Karena karakter aktivitas gunung api dapat berubah, masyarakat maupun wisatawan diminta tidak mengabaikan informasi dan rekomendasi keselamatan yang dikeluarkan oleh otoritas terkait.
Masyarakat yang berada di kawasan terdampak abu vulkanik juga diimbau menggunakan masker atau pelindung saluran pernapasan untuk mengurangi paparan abu.
Informasi mengenai perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau hendaknya selalu mengacu pada pembaruan resmi Badan Geologi/PVMBG dan instansi kebencanaan terkait.
Gunung Anak Krakatau menjadi salah satu contoh nyata bagaimana proses vulkanisme dapat membentuk dan mengubah bentang alam. Dari aktivitas magma di dasar laut, material vulkanik secara bertahap membangun tubuh gunung hingga menjadi pulau vulkanik yang terus berkembang dan berubah.
Penulis: Wildan As
Sumber: Badan Geologi/PVMBG — Pembaruan informasi per 7 September 2026.







